29.2 C
Banda Aceh

 Ancaman Tergerusnya Keberagaman di Indonesia

Oleh:
Rina Rahma

CBNPost – Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki keragaman budaya, ras, suku, kepercayaan, agama, dan bahasa. Sesuai semboyan Bhineka Tunggal Ika yang bermakna walaupun berbeda-beda tetap satu jua, maka meskipun memiliki keragaman budaya, Indonesia tetap satu. Kemajemukan yang beraneka-ragam ini mampu memperindah kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggal di Indonesia sepatutnya kita bersyukur dan bangga terhadap keanekaragaman yang ada di negeri ini. Dari Sabang sampai Merauke kita bisa melihat bagaimana keragaman mulai dari kepercayaan, budaya serta sosial, namun tetap bisa hidup secara berdampingan. Contoh seperti kedatangan orang-orang Tionghoa ke Aceh semenjak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Mereka menetap di Aceh dengan kepercayaan, sosial serta budaya yang semuanya sudah dijamin oleh Sultan, mereka  bebas untuk hidup sesuai keyakinan mereka masing-masing tanpa adanya paksaan, dan  bisa  hidup dengan damai, aman tanpa adanya gangguan.

Dewasa ini, kita lihat di salah satu sudut kota Banda Aceh yakni Peunayong “Gampong keberagaman Aceh” yang dominan didiami oleh masyarakat keturunan Tionghoa, dimana terdapat sebuah Gang yang tidak terlalu luas serta menjadi tempat masyarakat Tinghoa berinteraksi dengan masyarakat Aceh seperti transaksi jual beli, dan kehidupan sosial lainnya. Gang ini sangat kental dengan suasana Tionghoanya seperti segala atribut dan Pernak pernik khas orang Tionghoa terpampang nyata dan jelas disana, serta setiap ada kegiatan yang berhubungan dengan kebudayaan Cina seperti perayaan tahun baru Imlek, pertunjukkan Borongsai akan selalu ditampilkan sebagai sebuah identitas khas Tionghoa.

Baca lainnya: Harmoni di Tepi Krueng Lokop

Sampai hari ini masyarakat Tionghoa tersebut mampu hidup berdampingan dengan masyarakat Aceh yang notabenenya beragama islam dan dalam kehidupan sehari-hari juga saling menghormati antara satu sama lain. Misalnya pada bulan suci Ramadhan pedagang keturunan Tionghoa tidak membuka warung makan/menjual makanan, begitupun sebaliknya ketika masyarakat Tionghoa merayakan imlek/natal masyarakat muslim Aceh tetap menghormatinya, mereka saling menyayangi dan saling mengasihi antara satu dengan  lainnya.

Salah satu contoh kecil dari keberagaman di atas membuktikan bahwa keberbedaan di Indonesia ini mampu menjadikan sebagai sesuatu hal yang indah untuk dimiliki dan dijaga serta dijunjung tinggi keberadannya, karena ini merupakan asset bangsa yang sangat beharga.

Di era yang serba modern ini dengan kemajuan teknologi  semakin pesat, baik di media massa maupun media sosial banyak mengandung pesan postif ataupun negatif seperti ujaran kebencian, provokasi terhadap satu agama dan budaya  yang sengaja dibuat untuk memecah belah bangsa. Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi maka akan sangat mudah untuk menggeser keberagaman yang sudah lama ada. Ini merupakan ancaman nyata dan juga serius  dihadapi oleh generasi muda  dalam mempertahankan keberagaman di Indonesia. Dalam hal ini kita  harus pandai memilih sumber berita yang layak untuk dipercaya maupun tidak, karena  hal tersebut merupakan salah satu  tantangan besar untuk kita hadapi secara bersama-sama dalam upaya menjaga keberagaman yang sudah lama terawat ini.

lainnya: Bersenang-senang di Pulau Rubiah Sabang

Sudah menjadi tugas kita bersama sebagai generasi muda dan harus siap berdiri pada barisan paling depan dalam mengatasi hal-hal yang dapat memecah belah keberagaman Indonesia. Maka dari itu menjaga keberagaman adalah hal yang penting untuk dilakukan, selain untuk mencegah tergerusnya keberagaman di Indonesia serta kita harus bersatu untuk kesatuan bangsa Indonesia tercinta ini.

Tulisan ini merupakan bagian dari pemahaman sederhana Penulis ketika mengikuti kegiatan Tanah Air Bhinneka. Kegiatan ini memberikan pengalaman baru sambil belajar tentang keberagaman yang merupakan identitas sebuah negara Kesatuan Republik Indonesia, serta dapat melihat dengan cermat keanekaragaman kehidupan masyarakat lain baik dari segi agama, kebudayaan, suku, ras dan kepercayaan.

Manfaat lainnya adalah terbukanya jejaring teman baru dari wilayah yang berbeda dan untuk mendapatkan ilmu yang tidak mudah didapatkan dari tahapan akademik. Harapannya kegiatan Tanah Air Bhinneka ini mampu membuat kita lebih mencintai lagi keberagaman yang ada di Indonesia dan menganggap perbedaan sebagai sebuah berkah melimpah yang telah di berikan  Tuhan yang Maha Esa kepada kita sebagai warga negara Indonesia.

*Sejak tahun 2020 hingga sekarang  Penulis  aktif dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan penguatan kembali masyarakat adat dan lembaga adat. Penulis dapat dihubungi melalui surel : [email protected]

Artikel Terkait

Artikel Terbaru