29.2 C
Banda Aceh

Menilik Harta Karun Côh dan Krueng Thôe

Oleh; Boy Abdaz

CBNPost – Minggu lalu, saya memenuhi tantangan seorang teman untuk berkunjung ke Côh, sebuah kawasan yang terletak di pesisir Selat Malaka.  Côh secara wilayah pemerintahan merupakan bagian dari Gampong Meunasah Asan, Kecamatan Madat, Aceh Timur. Tantangan utama sebenarnya bukan Côh, tapi Krueng Thôe yang juga masih wilayah Meunasah Asan. Keduanya memiliki sumber daya alam yang melimpah bahkan Krueng Thôe menyimpan daya pikat destinasi yang mengangumkan.

Dari jalan Medan – Banda Aceh, kami berbelok di sebuah simpang ke arah utara yang familiar disebut Simpang Lueng. Tidak sampai dua puluh menit, kami melalui jalan aspal berlobang akibat tonase yang tidak sesuai dengan daya tahan jalan. Rumah penduduknya padat, sesawahan terbentang luas. Mungkin ini juga resiko wilayah yang mempunyai sentra produksi bermacam komoditas yang tidak dilengkapi dengan fasilitas badan jalan yang memadai.

Tak jauh dari sebuah masjid yang sedang dibangun, kami berbelok lagi ke kanan dan melewati jalanan berbatu. Hawa udara pesisir langsung terasa dan saya melihat hamparan tambak yang begitu luas. Di kiri dan kanan. Di depan, sejauh mata memandang, di ujung terhalang dedaunan mangrove yang didominasi bakau, setelahnya tanpa pandangan, tentu saja laut selat malaka.

“Kita tiba di Côh,” ujar sahabat saya sambil melaju. Beberapa tikungan patah kami lalui dan itu menjadi kesempatan baik untuk melihat hamparan tambak dari berbagai sisi. Udaranya mulai kencang, khas hembusan angin laut. Tidak ada lagi rumah di sepanjang jalan itu, hanya tempat hunian sementara (gubuk jaga) pemilik tambak yang masih bisa dihitung jari, ada tiga kios penampung udang, kepiting dan ikan sungai yang kadang-kadang mereka juga menampung hasil panen tambak yang terbatas.

Baca lainnya: Harmoni di Tepi Krueng Lokop

Lalu kami sampai di sebuah konsentrasi yang menjadi geliat utama Côh. Tempat itu tidak luas, hanya seribuan meter yang dibatasi sungai di sebelah timur, lalu tambak di sisi lainnya. Seorang pemuda yang bertanggung jawab untuk parkir mengarahkan kami untuk tertib, mengingat tempat parkir yang sempit. Banyak motor pengunjung di akhir pekan, rata-rata pemancing dan sebagian motor pekerja di sana. Kami parkir dengan rapi di bawah atap paranet yang dibentang seluas empat kali dua belas meter.

Ada tiga Gudang penampung ikan di sana, bahkan satunya mempunyai mesin serut (penghancur) es untuk kebutuhan menjaga kualitas ikan dalam fiber box. Ada juga dua warung kopi tempat para pekerja beristirahat dan menyediakan cemilan untuk tetamu pemancing. Di sudut timur, ada bangunan kayu seluas empat kali enam meter yang difungsikan sebagai mushalla yang separuh tiangnya ditancapkan ke bagian sungai, sebagaimana bangunan lainnya, untuk memaksimalkan luas daratan, khususnya badan jalan.

Bangunan utama di sana adalah apa yang mereka sebut Tempat Pendaratan Ikan (TPI) yang sejatinya adalah Talud yang dimaksimalkan fungsinya dengan menambahkan dua anak tangga di bibir sungai agar memudahkan ketika pendaratan boat dan mengangkut ikan ke darat dalam jumlah besar.

Di sungai dengan permukaan sekira tiga puluh meter itu, terparkir tambat beberapa boat berkapasitas daya muat lima ton dan beberapa boat untuk kapasitas dua orang penumpang milik pemancing yang juga disewakan untuk kebutuhan pemancing mania yang ingin ke laut. Jika semua berkumpul, ada empat puluhan boat dengan berbagai jenis yang mangkal di sana, begitu kata Alwi, penampung ikan basah yang memiliki boat dan dan Gudang sendiri.

Baca juga: Bersenang-senang di Pulau Rubiah Sabang

Côh memiliki luasan area tambak sekitar 30ribuan hektar dan jika digabung dengan tambak dua Gampong tetangganya, Meunasah Tingkeum dan Pante Bayam hampir mencapai 50ribuan hektar. Komoditas andalan mereka ikan jenis bandeng dengan rata-rata produksi mencapai 120 ton per bulan.

Dari sekian banyak panen hasil tambak ini, rerata diangkut dengan menggunakan boat, karena jalur transportasi air lebih memudahkan. Dari dalam tambak, ikan dipacking ke dalam fiber box lalu dimuat ke boat dan berlabuh di TPI Côh. Belakangan, menurut Alwi, ia juga mulai menerima ikan laut hasil tangkapan pancing para nelayan. Dan saya melihat ia menyimpan sejumlah ikan tongkol seukuran rata-rata 1,7 kg di fiber boxnya, hampir penuh satu box.

TPI Côh juga menerima hasil panen dari Krueng Thôe. Krueng Thôe dikenal dengan produksi semangka yang berbuah besar bisa mencapai 12 kg dan rasanya sangat manis. Krueng Thôe merupakan sebuah kawasan yang menyerupai pulau kecil sekira luas seribuan hektar. Pasirnya luas dan putih, ada juga hamparan rumput luas yang dimanfaatkan masyarakat untuk peternakan lembu yang dilepas secara liar.

Krueng Thôe juga dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk bertani lainnya dan berkebun. Ada kelapa sawit milik warga sekitar 300an hektar yang mulai panen. Juga ada tambak ratusan hektar. Semua hasil panennya tentu saja diangkut dengan boat ke TPI Côh.

Sebelum tsunami 2004 Krueng Thôe sempat diduduki warga dan beberapa keluarga menetap di sana. Namun setelah tsunami, akses ke sana semakin sukar karena beberapa bagian alur yang sebelumnya alur kecil kini semakin luas akibat hantaman tsunami dan terjadinya erosi. Saat ini tidak ada yang mendiami Krueng Thôe kecuali pelancong lokal yang menghabiskan malam dengan camping.

Lainnya: LBH Banda Aceh: Baiknya Ketua Komnas HAM Perwakilan Aceh Mengundurkan Diri

Jarak tempuh ke Krueng Thôe sekira 20 menit dari TPI Côh, tentu saja via jalur sungai dengan boat. Dan jarak tempuh ke laut lepas tidak lebih dari 40 menitan. Kabarnya, sekarang lagi diupayakan jalan penghubung via darat ke Krueng Thôe. “Ini lagi pembentukan badan jalan,” kata Mahmuddin, ia adalah pendamping Desa di sana dan telah berkontribusi banyak untuk Meunasah Asan.

Jalan ke sana, tambahnya, pembentukan jalan pertama kali, bukan rehab. Jadi menunggu kepadatan tanah itu butuh waktu agar bisa dilalui. Alat berat telah dikerahkan untuk pembentukan badan jalan dan itu semua dengan menggunakan Dana Gampong, masih swadaya. Ia paham banyak tentang desa dampingannya. Bahkan ia pernah melakukan inisiasi dengan masyarakat untuk memancang sejumlah tiang dari bambu di sepanjang jalan ke Côh, karena ia melihat kabel listrik di sana terbentang liar diantara semak dan petakan tambak, bahkan sebagiannya terendam air tambak. Sesuatu yang sangat riskan untuk penduduk setempat.

Ketika saya sibuk bertanya, dari arah belakang saya, seseorang tiba-tiba menimpali, “Ke depan, Dewan (maksudnya anggota legislatif) harus punya ilmu menghilangkan diri. Karena kalau hari ini datang bawa janji, datang ke depan harus pakek “peurabon” agar aman,” mungkin maksudnya aman dari cacian warga.

Lima menit saya baru paham. Sepertinya, ia beranggapan saya sedang sosialisasi untuk kebutuhan 2024, caleg gitu. Saya hanya membalas dengan tawa lebar yang mengisyaratkan bahwa bukan saya yang dituju. Mahmudin menimpali, “Tenang, kita bukan type seperti itu.”

Mahmuddin memang telah didorong oleh banyak kalangan di Madat untuk mencoba berbuat lebih banyak melalui jalur politik. Mungkin penilaian mereka berdasarkan apa yang selama ini ia lakukan untuk Madat, khususnya Meunasah Asan.

Dia punya alasan yang kuat untuk menang karena kiprahnya telah membawa nama Madat menjadi sentra Bandeng Tanpa Duri (BATARI) yang saat ini telah difasilitasi dengan freezer (kulkas besar) untuk pengawetan ikan. Bahkan baru-baru ini ia dipercaya mengembangkan BATARI dengan difasilitasi Gedung Produksi BATARI dan berbagai produk turunan dari bandeng seukuran 8 x 12 meter dari dinas terkait melalui skema koperasi dan UMKM yang ia kelola.

Untuk menjamin pasokan, sebuah kelompok tani telah dibentuk dan mereka bekerjasama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) Pusat untuk budidaya ikan bandeng di area seluas hampir 1000 hektar, dan itu lokasinya di Côh. Ada perputaran uang sekitar 3 milyar dari BSI untuk kegiatan ini, mulai dari pembentukan tambak, pembibitan dan pengadaan boat sebagai alat transportasi.

Menarik lainnya: Petikan Senar Jasmine (Cerpen)

Menurut Mahmuddin, hasil panen bandeng Côh pemasarannya masih skala lokal, belum mampu menembus pasar Sumut atau wilayah luar Aceh lainnya, sehingga harga ikan selalu merosot yang berimbas pada pendapatan petani tambak. Upaya untuk ekspor sebenarnya sudah mulai dilakukan, tapi masih relatif sedikit melalui skema kelompok tani tambak yang difasilitasi BSI.

Sebanarnya, tambahnya, secara ketersediaan sumber daya, Kawasan Côh sudah layak mempunyai pabrik pengolahan ikan sendiri. Apalagi sebagian besar petambak Kuala Malihan, Simpang Ulim juga mendaratkan hasil panen ke TPI Côh. Namun belum ada pemodal yang menyatakan minat untuk berinvestasi skala pabrik. Semoga suatu saat BSI akan melirik ini dengan skema yang saling menguntungkan agar masyarakat di sana dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

Begitulah Côh dan Krueng Thôe, harta karun Meunasah Asan yang harus mempersiapkan diri untuk perubahan. Pemda juga harus melirik dua kawasan ini dengan serius. Peningkatan fasilitas harus memadai agar Côh dan Krueng Thôe bergerak lebih cepat untuk menyokong pembangunan berkelanjutan di Aceh Timur.

Ketika saya pulang, saya baru sadar dan memperhatikan bahwa pengembangan di sana masih minim sentuhan, jalanan masih belum memadai, ditambah suplai arus listrik yang masih sangat rawan karena tanpa tiang beton sama sekali. Geliat ekonomi dan perputaran panen yang besar harus ada keterlibatan pemerintah juga. Supaya masyarakat di sana tidak hanya menjadi pekerja semata sementara manfaat terbesarnya lebih dirasakan oleh pemodal dari luar.

Jangan biarkan Côh dan Krueng Thôe berjuang sendirian.

 

Artikel Terkait

Artikel Terbaru