29.2 C
Banda Aceh

Tarif Cukai Rokok Naik 10 Persen di 2023

JAKARTA | CBNPost – Pemerintah memutuskan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk rokok naik sebesar 10% pada tahun mendatang. Keputusan tersebut berdasarkan hasil rapat para menteri terkait bersama presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Kamis (3/11/2022).

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan, kenaikan tarif CHT pada golongan sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), dan sigaret kretek tangan (SKT) akan berbeda sesuai dengan golongannya.

“Rata-rata 10%, nanti akan ditunjukkan dengan SKM I dan II yang nanti rata-rata meningkat antara 11,5% hingga 11,75%, SPM I dan SPM II naik di 12% hingga 11%, sedangkan SKT I, II, dan III naik 5%,” papar Sri Mulyani.

baca lainnya: Perbudakan Terhadap Awak Kapal Perikanan Asing Masih Terjadi

Menurut Menkeu, kenaikan tarif cukai ini akan berlaku pada 2023 dan untuk 2024 akan diberlakukan kenaikan tarif yang sama. Presiden Jokowi juga meminta agar kenaikan tarif tidak hanya berlaku pada CHT tetapi juga rokok elektrik dan produk hasil pengolahan hasil tembakau lainnya (HPTL).

Untuk rokok elektrik, menurut Menkeu, kenaikan tarif cukai akan terus berlangsung setiap tahun selama lima tahun ke depan.

“Hari ini juga diputuskan untuk meningkatkan cukai dari rokok elektronik yaitu rata-rata 15% untuk rokok elektrik dan 6% untuk HTPL. Ini berlaku, setiap tahun naik 15%, selama 5 tahun ke depan,” bebernya.

Menkeu mengklaim dalam penetapan CHT pemerintah menyusun instrumen cukai dengan mempertimbangkan sejumlah aspek mulai dari tenaga kerja pertanian hingga industri rokok. Di samping itu, pemerintah juga memperhatikan target penurunan prevalensi perokok anak usia 10-18 tahun menjadi 8,7% yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

baca juga: Pusat Pengembangan Bisnis UIN Ar-Raniry Benchmarking ke Badan Pengelola Usaha Universitas Brawijaya

Pertimbangan selanjutnya, tambah Menkeu, yaitu mengenai konsumsi rokok yang menjadi konsumsi rumah tangga terbesar kedua setelah beras. Bahkan, konsumsi tersebut melebihi konsumsi protein seperti telur dan ayam.

Konsumsi rokok merupakan konsumsi kedua terbesar dari rumah tangga miskin yaitu mencapai 12,21% untuk masyarakat miskin perkotaan dan 11,63% untuk masyarakat pedesaan.

“Ini adalah kedua tertinggi setelah beras, bahkan melebihi konsumsi protein seperti telur dan ayam, serta tahu, tempe yang merupakan makanan-makanan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” imbuh Menkeu.

Lebih lanjut, Menkeu juga menyampaikan bahwa pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif cukai guna mengendalikan baik konsumsi maupun produksi rokok. Dia pun berharap kenaikan cukai rokok dapat berpengaruh terhadap menurunnya keterjangkauan rokok di masyarakat.

“Pada tahun-tahun sebelumnya, di mana kita menaikkan cukai rokok yang menyebabkan harga rokok meningkat, sehingga affordability atau keterjangkauan terhadap rokok juga akan makin menurun. Dengan demikian diharapkan konsumsinya juga akan menurun,” pungkasnya.

SINDONEWS.com

Berita menarik lainnya: FPTI Aceh Perkuat Tim Menuju PON 2024

Artikel Terkait

Artikel Terbaru