27.2 C
Banda Aceh

Tulisan yang Gagal Membahas Kripik

“Hakekatnya, people-out adalah people-in yang tertunda, demikian pula sebaliknya.”

Mengharapkan kritik yang membangun adalah bentuk lanjutan dari keserakahan pemerintah dan siapapun yang menerima koreksi dengan maksud menunjukkan kesalahan yang perlu diperbaiki. Mestinya, setiap pihak yang menerima kritik justru membayar sang pengkritik.

Pihak (dalam makna jamak) yang menerima kritik cenderung memandang kritik sebagai bentuk kebencian. Respon yang muncul terhadap kritik seringkali mengedepankan prasangka buruk. Padahal, esensi kritik serupa dengan orangtua yang memarahi anak. Kritik adalah cara dan pola kendali (mekanisme kontrol) atas kekuasaan dalam segala wujudnya. Seorang anak yang berkuasa atas kehendak dalam diri dan tubuhnya kerap menjalani rasa marah tanpa peduli inti dari segala inti yang menjadi core of the core dari teguran orangtuanya.

Meninjau Politik secara Kaffah

Penguasa politik mesti kita pandang sebagai anak, bahkan mesti kita pandang sebagai remaja yang tengah tumbuh dalam mencari jati-dirinya. Kekuasaan tak boleh dipandang sebagai orangtua. Memandang kekuasaan sebagai orangtua tergolong sebagai tindakan paling manipulatif sepanjang sejarah pemikiran ber-aras mu’amalah.

Pertama, mayoritas orang sudah terlanjur beranggapan bahwa orangtua tak layak dikritik. Jadi ada stigma durhaka jika mengkritik orangtua. Otomatis, jika kekuasaan dianggap sebagai orangtua, akan ada kesan buruk atas diri tiap pengkritik. Setiap pengkritik adalah analogi dari anak-durhaka. Bayangkan, pengkritik setara dengan Malin Kundang!

Kedua, memisalkan kekuasaan sebagai orangtua memberi peluang untuk membangun kekuasaan yang abai dan koruptif. Penguasa yang dianalogi menjadi orangtua akan dengan gampang berkata, “Ah… itu ‘kan cuma rengekan anak-anak!” Sementara, anak yang mengkritik berpotensi mengalami penelantaran karena dianggap durhaka.

Ketiga, memandang kekuasaan sebagai orangtua adalah sikap brutal. Sebab, tak semua orangtua layak mendapat penghormatan. Sejatinya, orangtua (dalam pengertian muasal benih biologis kita) juga realitas profan. Memahami orangtua sebagai realitas yang sakral sungguh pilihan keliru. Sebagaimana rocker, orangtua juga manusia yang tak sempurna dan kadang salah, demikian jika kita sedikit mencoba melibatkan Nikita Willy dan Serieus Band dalam pembahasan ini.

Baca: Invisible Sword Oligarki

Jadi, jika sepakat menyingkirkan permisalan kekuasaan sebagai orangtua, kita mesti memandang kekuasaan sebagai remaja-mengkal-merekah-gatal yang sedang berada di puncak gejolak hormonal. Sebab, memandang kekuasaan sebagai anak-kecil (kanak-kanak) juga tak proporsional mengingat kepolosan di usia kanak-kanak memiliki kecenderungan untuk patuh di depan dan usil di belakang. Kanak-Kanak memiliki naluri eksplorasi (mengacu pada terminologi Dora the Explora), sementara remaja sudah mulai berani membantah saat menerima nasehat (kritik) dan suka bereksperimen plus mengeksploitasi dorongan hormonal di belakang orangtua.

Eiiittt… jangan lupa, kanak-kanak dan remaja juga punya potensi untuk menjadi benar dan bijaksana, ya…

Sama seperti penerima kekuasaan yang semestinya mengucapkan istighfar, para penerima kritik kebanyakan lebih menyukai pujian. Hal ini terjadi pada tiap orang atau pihak yang sedang menguasai sesuatu. Bisa saja bentuk kuasanya berupa amanah politik, gelimang kemakmuran ekonomi maupun titipan Tuhan berwujud kehendak-bebas dan kecerdasan. Sudah menjadi khittah manusia untuk lebih “mendengarkan hal yang ingin mereka dengar” ketimbang “mendengar apa yang benar!” Bayangkan, jika kita menyerah pada khittah tersebut.

Sayangnya lagi, kekuasaan (terutama di lingkup politik) kerap mengkebiri kaum yang suka mengkritik dengan cara merekrut mereka ke dalam kekuasaan. Menjadikan mereka sebagai people-in dengan harapan gelombang kritik mereda. Setelah para pengkritik menjelma menjadi people-in, gelombang kritik baru tetap akan muncul. Sebabnya adalah, kekuasaan politik memang berpotensi dipandang sebagai sumber solusi, sehingga tuntutan penyelesaian masalah apapun (yang tak tuntas maupun baru terjadi) diserahkan kepada pemegang otoritas.

Baca juga: Harmoni di Tepi Krueng Lokop

Di samping itu, tiap penguasa tak boleh lupa sebuah fakta otentik di ranah sosial-politik-ekonomi terkait sikap pragmatis tiap diri yang memilih menjadi Abdul Kapitalis: Hakekatnya, people-out adalah people-in yang tertunda, demikian pula sebaliknya.

Memilah Kritik dan Caci?

Tampaknya, kekuasaan –yang berakibat pada meningkatnya kesibukan– membuat penguasa tak punya banyak waktu untuk menerawang (menganalisa), mengamati dan memilah mana serangan yang tergolong kritik dan mana yang berkategori caci. Kita sebut ini sebagai prasangka penguasa terhadap segala yang dikuasai.

Padahal, memilah kritik dan caci tidaklah penting dalam mengelola kekuasaan. Cacian sekalipun mesti dianggap sebagai kritik. Tujuan utamanya, mengurangi energi besar yang semestinya lebih layak disalurkan untuk hal lain yang lebih penting. Jadi, memilah kritik dan caci tidak penting, kecuali seorang penguasa memiliki cukup waktu dan energi.

Jadi, tampunglah segala kritik dan caci. Tempatkan dalam sebuah map di atas meja kerja. Pilah prioritasnya. Itu saja. Sebab, kadangkala, pencaci tanpa sadar sedang memberi kritik. Ini gejala bagus untuk kekuasaan kau, Lae… Sebaliknya, para pengkritik –yang berniat tulus untuk menunjukkan celah dalam pengelolaan kekuasaan kau– ternyata sedang mencaci tanpa sadar. Sebab, bukankah sudah galib terjadi kesalahan teknis dalam implementasi niat; seseorang yang berniat memaki ternyata mengimplementasi kritik dan seseorang yang bermaksud mengkritik malah terpeleset menjadi pihak yang menerapkan cacian. Nah… di titik inilah kau akan menemukan beda esensial antara kritikus dengan gonggongers.

Itu sebab, tak penting memilah mana kritik dan mana caci!

Petikan Senar Jasmine (Cerpen)

Ketamakan Pemerintah

Menuntut kritik yang membangun: Tuntutan semacam ini adalah pengkhianatan. Sebab, kritik adalah sumbangan batu-bata dari seseorang yang peduli terhadap sebuah konstruksi yang sedang kau bangun.

Meminta kritik yang positif: Nah… permintaan semacam ini sungguh keji dan tidak berperipengetahuan. Setiap kritik adalah hal yang positif. Saat dikritik, engkau sedang mendapat sesuatu, bukan kehilangan sesuatu! Artinya, kritik serupa transferan nilai ke dalam pundi tabungan. Hindarkan telingamu dari godaan people-in yang terkutuk; yaitu people-in yang layak disebut la’natullah ‘alayh sebab selalu menjerumuskan kau dalam neraka ABS (Asal Bapak/Boss Senang) semata. Mereka yang memelihara lidahnya agar tetap berlendir demi menjaga lubrikasi di tiap jilatan atas kuasamu.

Meminta kritik dalam bentuk yang sopan: Permintaan kritik dalam forma(t) begini menunjukkan kecengengan penguasa. Rakyat atau bawahan yang berada dalam lingkup kekuasaannya tidak akan menerbitkan kritik jika tak ada kesalahan kau selaku penguasa. Kesalahan penguasa adalah noda-khianat atas aturan kekuasaan. Aturan tersebut bisa saja berupa konstitusi, AD/ART, Petunjuk Pelaksanaan (juklak), Prosedur Tetap (protap) maupun Petunjuk Teknis (juknis) yang sudah disepakati sebagai panduan nilai kolektif, adab hidup bersama. Dugaan pelanggaran (kita sebut saja begitu demi mematuhi azas praduga tak bersalah) yang kau lakukan adalah pengingkaran dan/atau pengkhianatan terhadap panduan-nilai kolektif. Kurang-ajar sungguh jika engkau menuntut kesopanan sikap dari pelanggaran adab. Semestinya, meski kritik diajukan dengan cara yang bertentangan dengan kesopanan, kau mesti maklum. Sebab, para pengkritik adalah orang yang sedang marah kerap sukar mengendalikan diksi, intonasi dan ekspresi.

Tiap kritik bersifat membangun, kecuali kritik terhadap orang yang suka begadang yang sudah pasti berisi anjuran untuk tidur. Atau, kritik terhadap orang yang sudah terlalu lama berdiri.

Kritik bisa saja salah karena mungkin hal yang dikritik adalah sebuah peristiwa yang proses penyelesaiannya sedang berlangsung. Sementara si pengkritik tidak melihat permasalahan tersebut secara menyeluruh.

Pihak yang mestinya mengalami kemarahan para penguasa ketika mendapat kritik adalah para penasehat penguasa. Langkah pertama adalah mengganti jabatan mereka menjadi penasakit. Langkah berikutnya adalah memarahi mereka, karena semestinya mereka yang dulunya bersikap kritis ketika menjadi peole-out tak dibutakan kenyamanan sehingga kehilangan daya kritis mereka saat sudah berada dalam lingkar kekuasaan.

Mimbar dan Kemiskinan

Mengharapkan tak mendapat kritik saat berkuasa adalah keinginan yang culun (lugu/naif). Harapan semacam itu serupa Kris Dayanti yang berharap fotonya terhapus di semua citra visual, baik digital maupun printal.

Jadi, serahkan solusi dari setiap kritik sebagai pekerjaan bagi para penasehat yang ada di lingkaran kekuasaan yang kau rengkuh. Jangan biarkan mereka yang dahulu menjadi pengkritik saat ‘menjabat’ peran people-out kehilangan daya kritis saat berada di gelimang kuasa yang kerap berlumur lendir dan bersimbah madu. Mengharap solusi dari pengkritik adalah penindasan sejak dalam pikiran. Semestinya kaulah yang mesti membayar kritikus. Kripik saja mesti dibayar ditebus dengan sejumlah pembayaran materiil maupun moril, apa lagi kritik yang menunjukkan kelemahan.

Jadi, apa hubungan judul tulisan ini dengan kontennya? Hubungannya baik-baik saja, terutama fakta bahwa “kripik” dan “kritik” akan berima jika berada di ujung larik pantun. Jangan pula lupa, di bagian judul sudah kuakui setulus jiwa bahwa ini tulisan gagal tentang kripik!

Tulisan ini pernah tayang di FB Penulis, Mei 2021.

 

Artikel Terkait

Artikel Terbaru

https://kampungbahasa.id/kampung/mpo/ https://kampungbahasa.id/wp-includes/updates/ https://chsdbacks.com/ https://infojabodetabek.com/ https://motor138.com/ https://jurnal.usy.ac.id/lib/sigacor/ https://pauddikdasmen.com/uploades/maxwin/ https://www.pauddikdasmen.com/assets/vendor/ https://krebet-jambon.desa.id/maxwin88/ https://bululor.desa.id/.well-known/ https://rsiaibunda.or.id/rawat-inap/ https://poko.desa.id/wp-content/shop/ https://poko.desa.id/product/ https://ntt.sdgs.web.id/platform/ https://ntt.sdgs.web.id/wp-content/web/ https://gorontalo.sdgs.web.id/scatter/ https://gorontalo.sdgs.web.id/informasi/ https://upbuwamena.id/landasan/
https://profile.hatena.ne.jp/Brendatan/ https://www.wattpad.com/user/Brendatan009 https://audiomack.com/andirarasty https://id.pinterest.com/andirarasty/ https://www.imdb.com/user/ur179798197/?ref_=nv_usr_prof_2 https://medium.com/@andira.rasty93/slot-gacor-4d-daftar-situs-slot-online-resmi-terbaik-2024-41eb4560896b https://replit.com/@andirarasty93 https://www.twitch.tv/andirarasty/about https://tawk.to/andirarasty https://www.kickstarter.com/profile/1863524525/about https://micro.blog/andirarasty https://dribbble.com/andirarasty/about https://note.com/andirarasty/ https://www.coursera.org/learner/andirarasty https://www.discogs.com/user/andirarasty https://ext-6536871.livejournal.com/profile/ https://www.reverbnation.com/andirarasty https://www.wattpad.com/user/putrinastasya https://audiomack.com/putrinastasya https://id.pinterest.com/putrinastasya96/ https://www.imdb.com/user/ur179938861/?ref_=nv_usr_prof_2 https://medium.com/@putri.nastasya96/motor138-daftar-situs-slot-online-gacor-resmi-terbaik-2024-5cc8d72ed6b6 https://replit.com/@putrinastasya96 https://www.twitch.tv/putrianastasya96/about https://tawk.to/Motor138slotgacor?_gl=1*1b5uss2*_ga*MjAwNjQ0NDQ1NS4xNzEyNjAyODg2*_ga_ZJL9LF36Z8*MTcxMjYwMjg4NS4xLjEuMTcxMjYwMzQ1MS4wLjAuMA.. https://www.kickstarter.com/profile/478989317/about https://micro.blog/putrianastasya https://dribbble.com/putrianastasya/about https://www.coursera.org/learner/putrianastasya https://www.discogs.com/user/putrianastasya https://ext-6536876.livejournal.com/profile/ https://www.reverbnation.com/putrianastasya