Aceh Utara — Ada tanah yang tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya berganti wajah penjajah, berganti nama perlawanan, namun semangatnya tetap sama sejak abad ke-13 hingga hari ini. Itulah Aceh Utara tanah kelahiran Samudera Pasai, kerajaan Islam pertama di Nusantara, yang kini merayakan Milad Samudera Pasai ke-800 pada 6–13 September 2026.
Ketika Pasai Menyalakan Cahaya Islam Nusantara Jauh sebelum peta dunia mengenal nama Indonesia, di pesisir utara Sumatra ini, Sultan Malik al-Saleh menancapkan panji Islam pertama kalinya sebagai kekuatan politik yang berdaulat.
Ia mewarisi semangat dari jauh jejak yang bahkan bisa ditarik hingga ke Damaskus, tempat para khalifah Umayyah seperti Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar emas pertama sebagai simbol kedaulatan Islam yang mandiri.
Ketika dirham Pasai kemudian dicetak oleh Sultan Muhammad Malik az-Zahir, itu bukan sekadar uang itu adalah pernyataan kami berdaulat, kami merdeka, kami punya identitas sendiri.
Ujian Pertama, Melawan PortugisRatusan tahun kemudian, kedaulatan itu diuji. Kapal-kapal Portugis datang dengan meriam dan ambisi menguasai jalur rempah dunia. Pada 1521, mereka berhasil menaklukkan Samudera Pasai yang telah melemah.
Namun api perlawanan tidak padam ia justru menyulut kebangkitan baru, Kesultanan Aceh Darussalam, yang mengambil alih semangat Pasai dan menjadikannya kekuatan maritim yang disegani di Selat Malaka.
Dengan Darah dan Air Mata, Perang Aceh Melawan Belanda, Ketika Belanda datang di akhir abad ke-19 dengan ambisi menguasai seluruh Nusantara, Aceh menjadi wilayah yang paling lama dan paling keras melawan.
Perang Aceh (1873–1904) tercatat sebagai salah satu perang kolonial terpanjang dan paling berdarah dalam sejarah penjajahan Belanda di Nusantara. Rakyat Aceh laki-laki, perempuan, ulama, hingga pemimpin adat bersatu dalam semboyan “Perang Sabil”, berjuang bukan hanya demi tanah, tapi demi harga diri dan keyakinan agama Islam yang tak bisa ditawar.
Bayang Pendudukan Jepang dan Gejolak Pasca-Kemerdekaan Pendudukan Jepang (1942–1945) membawa penderitaan baru, namun juga membuka celah kesadaran nasional yang lebih luas.
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, Aceh justru dihadapkan pada babak baru perjuangan, pemberontakan DI/TII di bawah Tgk. Muhammad Daud Beureueh pada 1950-an, sebagai respons atas kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah pusat yang dianggap tidak memenuhi janji status istimewa bagi Aceh.
Gerakan Aceh Merdeka, Luka Panjang yang Berujung Damai, Babak paling menyayat hati datang lewat konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang berlangsung dari 1976 hingga 2005 hampir tiga dekade pertumpahan darah, kehilangan, dan trauma kolektif yang membekas dalam ingatan masyarakat Aceh Utara.
Namun dari luka itu pula lahir salah satu momen paling bersejarah, Nota Kesepahaman Helsinki (MoU Helsinki) 2005, yang mengakhiri konflik dan membuka jalan bagi rekonsiliasi serta pembangunan Aceh yang damai.
Dari Medan Juang ke Meja Pemerintahan ,Hari ini, roda sejarah membawa babak baru yang tak kalah simbolis, para mantan pejuang GAM kini duduk memimpin pemerintahan daerah bukan lagi memanggul senjata, melainkan memikul tanggung jawab membangun.
H. Ismail A. Jalil, yang akrab disapa Ayah Wa, mantan Komandan Operasi Daerah IV Chik Ditunong Wilayah Samudera Pasee semasa konflik, kini memimpin sebagai Bupati Aceh Utara periode 2025–2030, didampingi Wakil Bupati Tarmizi, S.I.Kom.
Perjalanan dari front pertempuran ke kursi kepemimpinan sipil ini menjadi bukti nyata bahwa perjuangan Aceh telah bertransformasi, dari mempertahankan eksistensi dengan senjata, menjadi membangun masa depan dengan kebijakan.
Milad 800 Tahun Merayakan Akar, Menyalakan Semangat ketika Aceh Utara menggelar Milad Samudera Pasai ke-800 dengan tema “Ta’jaga Adat, Ta’peukong Syariat”, ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ini adalah pengingat kolektif, bahwa tanah ini telah melewati kejayaan sultan, penindasan penjajah, luka saudara sebangsa, hingga akhirnya damai dan berdaulat mengatur rumahnya sendiri.
Setiap generasi Aceh Utara — dari prajurit Pase yang gugur melawan Portugis, pejuang yang mengangkat senjata melawan Belanda, hingga kombatan GAM yang kini menjabat kursi pemerintahan mewarisi satu benang merah yang sama, semangat untuk tidak pernah menyerah pada identitas dan martabat sendiri.
Delapan abad adalah waktu yang panjang. Tapi bagi Aceh Utara, itu bukan sekadar hitungan tahun itu adalah rangkaian perjuangan yang tak pernah putus, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, hingga hari ini dirayakan bukan hanya sebagai kenangan, tapi sebagai api yang terus menyala untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Selamat memperingati Milad Samudera Pasai ke-800. ( Muliadi Tanlus)
