ACEH UTARA — Peringatan Milad ke-800 Tahun Kerajaan Samudera Pasai di Kabupaten Aceh Utara berlangsung khidmat dengan serangkaian kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Salah satu momen utama yang menarik perhatian publik adalah tausiyah mendalam yang disampaikan oleh Tgk. Habibi An-Nawawi, Lc., M.Dipl., pada Rabu (9/9/2026).
Tgk. Habibi An-Nawawi, dai muda asal Aceh yang dikenal luas usai meraih Juara 1 Akademi Sahur Indonesia (AKSI) 2026 di Indosiar, mengajak masyarakat untuk melihat sejarah Samudera Pasai tidak sekadar sebagai kebanggaan masa lalu, tetapi sebagai cermin untuk membangun fondasi generasi mendatang.
Dalam tausiyahnya, Tgk. Habibi mengangkat ikhtibar dari kisah Nabi Ya’qub AS menjelang wafatnya sebagaimana diabadikan dalam Al-Qur’an. Saat itu, Nabi Ya’qub AS bertanya kepada anak-anaknya mengenai siapa yang akan mereka sembah setelah beliau tiada.
“Yang ditanyakan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya bukan tentang jabatan, bukan tentang pekerjaan, bukan tentang harta, melainkan tentang siapa yang mereka sembah setelah beliau meninggal,” tegas Tgk. Habibi.
Ia mengingatkan bahwa urusan rezeki sudah dijamin dan diatur oleh Allah SWT. Oleh sebab itu, tugas utama para orang tua dan pemimpin hari ini adalah mewariskan fondasi akidah, keimanan, serta nilai-nilai kebaikan yang kukuh kepada penerus bangsa.
Pesan mengenai prioritas keimanan tersebut dikaitkan langsung dengan rekam jejak kejayaan Samudera Pasai. Sebagai kerajaan Islam terkemuka di Nusantara pada abad ke-13, Samudera Pasai dikenal memiliki peradaban yang maju, baik dari segi penyebaran dakwah maupun kekuatan ekonomi regional.
Salah satu bukti kebesaran dan kemandirian ekonomi Samudera Pasai adalah digunakannya.”Dirham Emas” sebagai mata uang resmi perdagangan. Koin emas khas Samudera Pasai tersebut tidak hanya menjadi simbol kestabilan ekonomi dan kedaulatan wilayah, tetapi juga diukir dengan tulisan Arab yang memuat nama sultan serta gelar keislaman. Hal ini menunjukkan betapa nilai-nilai tauhid terintegrasi secara menyatu dalam setiap urusan muamalah dan perekonomian kerajaan.
Menurut Tgk. Habibi, delapan abad perjalanan sejarah Samudera Pasai hendaknya menjadi momentum evaluasi bersama. Kemegahan kekuasaan, tingginya pengaruh perdagangan, hingga kemewahan Dirham Emas pada akhirnya akan menjadi catatan sejarah.
Namun, “Nilai akidah dan keteladanan , yang melandasinya adalah hal yang harus terus dihidupkan.”Peringatan ini tidak boleh berhenti sebagai seremoni sejarah semata. Kejayaan suatu generasi pada akhirnya akan berlalu. Namun, nilai, imannya, dan keteladanan yang diwariskan kepada generasi berikutnya akan terus hidup apabila dijaga dan diamalkan,” pungkasnya.
Peringatan Milad ke-800 ini pun diharapkan mampu memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah daerah sekaligus memicu kesadaran generasi muda Aceh dalam merawat identitas agama, budaya, dan peradaban di masa mendatang. (MUL)
