Aceh Utara | CBNpost.com— Masjid Raya Pase Kota Panton labu Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh kembali diuji, bukan oleh kekurangan jamaah, melainkan oleh krisis adab. Senin (5/1/2026), areal parkir masjid di Panton Labu berubah wajah menjadi tempat pembuangan sampah dadakan.
Plastik, sisa makanan, dan kantong kresek menggunung rapi bukan hasil kerja petugas kebersihan, melainkan buah dari tangan-tangan “saleh instan tidak beradap” yang tahu datang ke masjid, tapi lupa cara menjaga martabatnya.
Pemandangan ini menyakitkan mata dan menusuk nurani. Azan berkumandang memanggil untuk sujud, sementara sampah menyambut jamaah di depan pagar.
lisan basah berzikir, tangan kering oleh rasa tanggung jawab. Jika kebersihan benar bagian dari iman, maka parkiran Masjid Raya Pase adalah cermin buram yang tak bisa lagi dipoles dengan kata-kata manis.
Masjid yang seharusnya menjadi pusat akhlak justru diperlakukan seperti halaman belakang tak bertuan. Area parkir disulap menjadi tong sampah raksasa murah, gratis, dan aman dari sanksi.
Rupanya, sebagian orang merasa paling nyaman melanggar adab di tempat suci, karena yakin tak akan ditegur. Lebih telak lagi, perilaku ini terjadi di tengah riuh dakwah, spanduk iman, dan khutbah kebersihan, bahkan di depan banyak orang lalu lalang.
Ayat dibaca, akal sehat ditinggal. Nasihat didengar, kebiasaan buruk dipeluk erat. Jangan heran bila lingkungan rusak karena rusaknya dimulai dari cara berpikir yang menganggap dosa bisa diparkir sebentar di halaman masjid.
Masyarakat menilai, ini bukan sekadar sampah, melainkan penghinaan terbuka terhadap rumah Allah. Jika parkiran masjid saja dijadikan tempat buang kotoran, bagaimana nasib ruang publik lain.
Jangan-jangan masjid dipahami hanya sebagai tempat “menggugurkan kewajiban”, bukan tempat belajar beradab. Sudah saatnya pengurus masjid dan Pemkab Aceh Utara, khususnya DLHK, berhenti menjadi penonton.
Imbauan lembut sudah basi. Teguran keras, kamera pengawas, dan sanksi nyata adalah satu-satunya bahasa yang mungkin masih dimengerti. Tanpa itu, parkiran akan terus kotor, dan rasa malu akan makin langka.
Masjid Raya Pase tidak butuh jamaah tambahan ia butuh jamaah yang berakal dan beradab. Datanglah sujud dengan iman, pulanglah tanpa meninggalkan sampah.
Jika itu saja tak mampu dijaga oleh jamaah dan warga sekitar, barangkali yang perlu dibersihkan bukan halaman masjid, melainkan cara berpikir sebagian pengunjungnya dan warga sekitar yang tidak mau menjaga kebersihan rumah Allah itu sediri. (CBN)
