Aceh Utara —Di saat jarum jam bersiap melangkah ke 1 Januari 2026, di banyak negeri orang bersiap menghitung detik dengan tawa dan harapan. Namun di Aceh Utara, waktu berjalan lambat, berat, dan sunyi.
Tidak ada kembang api. Tidak ada perayaan. Yang ada hanyalah deru angin malam, dinginnya hujan, dan suara anak-anak yang terlelap di bawah tenda darurat. Pak Presiden Prabowo Subianto, Saat negeri ini menyambut tahun baru, rakyatmu di Aceh Utara masih hidup di bawah lembaran terpal.
Mereka tidak sedang merayakan pergantian tahun mereka sedang bertahan dari penderitaan. Di tenda-tenda pengungsian itu, ada ibu-ibu yang menahan tangis agar anaknya bisa tidur. Ada anak-anak yang bertanya, “Kapan kita pulang ke rumah?” Ada para ayah yang menatap kosong ke gelap malam, menyimpan luka yang tak tahu harus disampaikan ke siapa.
Mereka tidak menuntut kemewahan. Tidak meminta pesta.Mereka hanya ingin Presiden mereka hadir. Pak Presiden, rakyat Aceh Utara ingin engkau datang melihat langsung keadaan mereka. Datang menyusuri tenda pengungsian, menginjak lumpur yang sama, merasakan dingin malam yang sama.
Bagi mereka, kehadiranmu adalah pengakuan bahwa penderitaan ini nyata, bahwa mereka masih dianggap sebagai bagian dari Indonesia.Mereka ingin menatap wajah Presiden mereka dan berkata jujur tentang kondisi yang dialami.
Mereka ingin berbicara tanpa perantara. Ingin mencurahkan keluh kesah yang selama ini hanya dipendam di balik air mata dan kesabaran yang hampir habis. Di tahun baru ini, Pak Presiden, hadirlah ke Aceh Utara.Bukan sekadar sebagai kepala negara, tapi sebagai pemimpin yang menyembuhkan luka rakyatnya.
Bagi mereka, satu langkahmu ke pengungsian adalah harapan. Satu sapaanmu adalah kekuatan. Dan satu pelukan negara adalah tanda bahwa mereka tidak berjuang sendirian.Tahun boleh berganti. Namun selama rakyatmu masih hidup di bawah tenda, harapan mereka tetap tertambat padamu, Pak Presiden.
