ACEH UTARA | CBNPost.com – Pemandangan pilu menyambut kedatangan rombongan pemerintah pusat di Gampong Rumoh Rayeuk, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Kamis (22/1/2026). Di daerah yang terdampak paling parah ini, rumah-rumah warga tampak rata dengan tanah. Sisa-sisa luapan irigasi yang menjebol tanggul masih menyisakan lumpur pekat di sepanjang jalan dan pemukiman.
Melihat kondisi tersebut, Menteri Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri RI). Tito Karnavian, turun langsung untuk memastikan bahwa negara hadir di tengah penderitaan rakyat Aceh Utara. Dalam kunjungannya, Tito secara detail memaparkan skema pemulihan pascabencana yang mencakup pembangunan infrastruktur hingga bantuan dana tunai untuk kebutuhan rumah tangga warga yang kehilangan segalanya.
Transisi dari Tenda ke Hunian Sementara
Dalam orasinya di hadapan warga dan pejabat daerah, Tito mengungkapkan rasa prihatinnya melihat masih banyak masyarakat yang bertahan di tenda-tenda darurat. Namun, ia membawa kabar baik mengenai percepatan pembangunan tempat tinggal yang lebih manusiawi.
“Daerah ini terdampak cukup berat, kita melihat rumah-rumah yang rata. Di sebelah sana ada irigasi, airnya pasti meluap tinggi dan tumpah ke kanan-kiri. Tapi Alhamdulillah, saya berterima kasih kepada Pak Menteri PU, Waskita Karya, dan Danantara yang segera membangunkan Huntara (Hunian Sementara) di sini,” ujar Tito di lokasi bencana.
Saat ini, sebanyak 168 unit Huntara sedang dibangun di dua lokasi berbeda sebagai tahap awal. Tito menegaskan bahwa Huntara adalah solusi jangka pendek yang lebih layak dibandingkan tenda. “Sebelumnya BNPB di bawah kepemimpinan Pak Suwaryanto telah menyiapkan tangki air, tenda, dan makanan. Tapi warga perlu rumah sementara yang lebih layak sebelum rumah tetap dibangun. Ada 4.000 unit yang disiapkan untuk seluruh Aceh Utara,” tambahnya.
Selama tinggal di Huntara, Tito menjamin bahwa kebutuhan logistik warga akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah melalui dapur umum dengan standar gizi yang baik, yakni makan tiga kali sehari dengan menu yang layak.
Skema Bantuan Rumah Tetap: Rp15 Juta hingga Rp65 Juta
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait telah menyiapkan anggaran besar untuk rekonstruksi rumah warga. Tito menjelaskan bahwa bantuan akan diklasifikasikan berdasarkan tingkat kerusakan bangunan:
- Rumah Rusak Berat/Hilang: Akan dibangunkan Hunian Tetap (Huntap) yang layak oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PRKP) atau BNPB dengan indeks biaya setara Rp65 juta.
- Rumah Rusak Sedang: Akan diberikan bantuan dana stimulan sebesar Rp30 juta.
- Rumah Rusak Ringan: Akan diberikan bantuan sebesar Rp15 juta.
Selain dari kantong APBN, Tito juga menyebutkan adanya dukungan dari pihak swasta dan organisasi kemanusiaan. “Ada konser-konser dan bantuan dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Buddha Tzu Chi yang berkomitmen membantu membangun 2.603 unit rumah tetap yang layak bagi warga,” jelasnya.
Bantuan Tunai Kemensos: Uang Perabot dan Modal Usaha
Salah satu poin krusial yang disampaikan Tito adalah bantuan “isi rumah” dan keberlangsungan hidup warga setelah masa tanggap darurat berakhir. Berdasarkan hasil dialognya dengan warga yang mengaku kehilangan seluruh harta benda, Tito telah berkoordinasi dengan Menteri Sosial untuk mencairkan bantuan tunai.
“Tadi saya tanya sendiri ke warga, perabotannya bagaimana? Jawabannya habis semua, tempat tidur habis. Nah, negara punya kewajiban untuk membantu. Ada bantuan Rp3 juta untuk perabotan dari Menteri Sosial,” tegas Tito.
Tak hanya itu, bagi warga yang kehilangan mata pencaharian seperti warung yang hancur atau sawah yang tertimbun lumpur, pemerintah menyiapkan Bantuan Ekonomi sebesar Rp5 juta. Ditambah lagi dengan Uang Lauk Pauk (ULP) sebesar Rp15.000 per jiwa per hari bagi warga yang sudah kembali ke rumah masing-masing namun masih dalam proses pembersihan lumpur.
Tito mengilustrasikan, jika satu keluarga terdiri dari empat orang, mereka bisa mendapatkan bantuan stimulan total mencapai lebih dari Rp23 juta (akumulasi bantuan rumah ringan, perabot, dan modal usaha) di luar uang makan harian.
Peringatan Keras Soal Data: “Jangan Sampai Jadi Masalah Hukum”
Meski anggaran telah siap, Tito memberikan peringatan keras kepada Bupati Aceh Utara, jajaran Camat, hingga para Geuchik (Kepala Desa) terkait akurasi data. Ia menekankan bahwa uang yang akan disalurkan adalah uang negara yang harus dipertanggungjawabkan melalui audit.
“Kuncinya adalah data. Saya minta kepada Bapak Bupati, buatlah tim bersama Camat, Geuchik, Dinas Sosial, dan BPBD. Daftar warga yang benar-benar memerlukan. Jangan sampai salah sasaran,” kata Tito.
Ia mengingatkan pengalaman di daerah lain di mana ketidaksinkronan data menghambat penyaluran bantuan. Tito tidak ingin proses birokrasi memperlambat bantuan yang sangat dibutuhkan warga. Ia meminta data tersebut segera direkam dan diserahkan kepada Gubernur atau Wakil Gubernur yang hadir di lokasi, untuk kemudian diteruskan kepadanya.
“Makin cepat data diserahkan, makin cepat uang itu cair. Ini sangat berharga bagi mereka yang sekarang tidak bisa berbuat apa-apa di tenda. Kita akan bekerja keras untuk memastikan masyarakat terdampak, termasuk di Langkahan ini, bisa kembali hidup normal sesegera mungkin,” tutup Tito Karnavian.
Kunjungan ini diakhiri dengan peninjauan fasilitas dapur umum dan distribusi logistik di posko pengungsian Gampong Rumoh Rayeuk, sebelum rombongan melanjutkan perjalanan untuk memantau titik irigasi yang rusak. (Mul)
