Aceh Utara – Pasca banjir besar yang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025, tenda-tenda pengungsian berdiri cepat. Spanduk bantuan terpasang. Posko darurat dibuka. Negara tampak hadir setidaknya dalam bingkai kamera.
Namun di balik kain tenda yang berkibar, ada kenyataan yang jauh lebih kejam ambulans tidak pernah datang.
Hingga kini, tiga puskesmas di Aceh Utara. Puskesmas Kecamatan Langkahan, Puskesmas Simpang Tiga Langkahan, dan Puskesmas Lhok Beringen di Kecamatan Tanah Jambo Aye.
Tidak memiliki satu pun armada ambulans. Kendaraan rujukan rusak diterjang banjir, dan sampai hari ini tidak ada pengganti. Ironisnya, kondisi ini terjadi setelah sejumlah menteri turun ke lokasi bencana.
Kunjungan dilakukan. Pernyataan empati disampaikan. Janji koordinasi diucapkan. Tetapi satu kebutuhan paling mendasar penyelamat nyawa ambulans tak pernah benar-benar dipikirkan secara serius.
Sementara pasien yang sakit di camp pengungsian seolah tidak pernah masuk hitungan kebijakan. Mereka tinggal di tenda darurat, berjuang dengan sisa tenaga, namun tidak ada kejelasan akan dirujuk dengan apa ketika kondisi memburuk.
Jika demam tinggi menyerang anak-anak, jika ibu hamil mengalami komplikasi, atau jika lansia kolaps di malam hari jawabannya nihil.
Pertanyaan paling sederhana sekaligus paling memalukan tak pernah dijawab negara.
Dengan kendaraan apa pengungsi yang sakit harus dibawa ke rumah sakit?
Yang terjadi di lapangan adalah rujukan gagal sebelum dimulai. Warga dipaksa mengandalkan mobil pribadi, kendaraan pinjaman, bahkan menunggu belas kasihan tetangga.
Dalam situasi darurat medis, penundaan bukan sekadar keterlambatan ia bisa berujung kematian. Tenda pengungsian memang memberi perlindungan sementara. Tetapi tanpa ambulans, tenda hanya menunda tragedi.
Negara hadir untuk membangun simbol, tetapi absen saat nyawa membutuhkan kehadiran nyata. Lebih dari sebulan pascabencana, ketiadaan ambulans tidak lagi bisa disebut keadaan darurat.
Ini adalah pembiaran sistematis, kegagalan perencanaan, dan kemiskinan empati yang dibungkus jargon koordinasi lintas kementerian.
Kementerian Kesehatan RI tidak bisa terus bersembunyi di balik kalimat “dalam proses” atau “sedang diusulkan”. Ambulans bukan wacana, bukan rapat, bukan rilis pers.
Ambulans harus hadir secara fisik di halaman puskesmas, siap membawa pasien, hari ini juga. Aceh Utara kini menyimpan potret paling jujur tentang cara negara bekerja saat bencana.
Cepat mendirikan tenda, lambat menyelamatkan nyawa. Jika negara hanya hadir lewat kunjungan dan simbol visual, tetapi absen saat pengungsi harus dirujuk, maka kritik ini sah disampaikan setajam mungkin.
ini bukan kegagalan teknis ini kegagalan nurani. Karena dalam bencana, tenda melindungi tubuh, tetapi ambulans menyelamatkan hidup warga yang mengungsi . Dan hari ini, yang dipilih untuk dihadirkan hanyalah yang mudah difoto.
