Aceh Utara | CBNpost.com -Pasca banjir besar yang melanda Gampong Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November 2025, puluhan alat berat jenis beko masih terlihat beroperasi membersihkan kayu-kayu gelondongan yang menumpuk di alur sungai dan permukiman warga.
Pantauan di lapangan pada Kamis, 1 Januari 2026, menunjukkan proses penertiban dilakukan dengan melibatkan instansi pemerintah pusat, ditandai dengan spanduk resmi kementerian pada sejumlah alat berat.
Pembersihan difokuskan pada pengangkatan kayu gelondongan yang terseret arus dari wilayah hulu saat banjir besar terjadi. Kayu-kayu tersebut menutup aliran sungai dan menghantam rumah-rumah warga yang berada di bantaran, menyebabkan kerusakan parah hingga menghilangkan bangunan tempat tinggal.
Di tengah aktivitas alat berat, masih terlihat bekas dampak bencana yang belum sepenuhnya tertangani. Sejumlah rumah warga dilaporkan tersapu arus banjir, sementara beberapa lainnya hingga kini masih tertimbun kayu gelondongan dan material lumpur. Warga setempat mengaku belum seluruh bangunan dapat dievakuasi karena besarnya ukuran kayu serta keterbatasan akses alat berat ke lokasi permukiman.
Salah satu kejadian yang menyita perhatian adalah salah seorang korban warga Geudumbak belum di temukan hingga kini, tepat di lokasi yang sebelumnya merupakan tempat tinggal. Korban tersebut dilaporkan hanyut terbawa arus deras saat banjir melanda.
Menurut keterangan warga, banjir besar tidak hanya membawa material kayu dari hutan, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan mereka. Sejak peristiwa itu, sebagian korban masih mengungsi di menasah setempat dan bergantung pada bantuan, sementara proses pemulihan berjalan bertahap.
Warga juga mengaitkan banyaknya kayu gelondongan dengan aktivitas penebangan hutan di wilayah hulu yang telah berlangsung dalam waktu lama. Mereka menilai berkurangnya tutupan hutan melemahkan daya serap tanah dan memperparah dampak banjir saat curah hujan tinggi terjadi. Namun hingga kini, warga mengaku belum mengetahui secara jelas pihak yang bertanggung jawab atas kayu-kayu tersebut.
Sementara itu, fokus pemerintah saat ini masih pada penanganan darurat dan pembersihan material banjir guna memulihkan akses sungai dan lingkungan permukiman. Aparat terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai asal-usul kayu gelondongan maupun langkah lanjutan terkait dugaan aktivitas penebangan di wilayah hulu.
Banjir Geudumbak tercatat sebagai salah satu bencana terbesar di Aceh Utara pada akhir 2025, dengan dampak kerusakan rumah, lahan, dan fasilitas warga. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi masih terus berlangsung, seiring harapan masyarakat agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (CBN)
