Aceh Utara | CBNPos.com – Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I kembali memfungsikan pintu air irigasi Jambo Aye/Langkahan pascabanjir besar yang melanda wilayah Aceh Utara dan Aceh Timur pada November 2025 lalu.
Pembukaan pintu air ini menjadi bagian dari langkah awal pemulihan infrastruktur pengairan guna mendukung kebutuhan pertanian masyarakat. Dalam keterangannya, pihak BWS Sumatera I menyampaikan bahwa pada bulan Maret ini fokus utama diarahkan pada pengejaran target fungsional pengendalian dari BJA 0 hingga BJA 5.
Selanjutnya, penanganan juga akan dilakukan di wilayah Panton Labu secara bertahap, mengingat keterbatasan waktu dan kondisi lapangan.“Insya Allah, dari potensi pengairan di wilayah lhoksukon sekitar 5.000 hektare, pada tahap awal akan difungsikan sekitar 2.000 hektare secara bertahap. Selama masa tanggap darurat ini, yang bisa kami lakukan adalah memfungsikan infrastruktur semaksimal mungkin,” ujar perwakilan BWS Sumatera I.
Ia menjelaskan, persoalan terkait dimensi bangunan, kekuatan konstruksi, serta aspek teknis lainnya akan dipermanenkan pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) yang direncanakan mulai Juni mendatang. Bersamaan dengan itu, BWS Sumatera I juga akan melakukan modernisasi pengelolaan Daerah Irigasi (DI) Jambo Aye, yang merupakan salah satu kawasan irigasi terbesar di bawah kewenangan BWS Sumatera I.
Untuk mendukung keberhasilan tahapan rehab-rekon tersebut, BWS Sumatera I berharap adanya dukungan penuh dari seluruh pemangku kepentingan, khususnya Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK), agar pelaksanaan perbaikan dapat berjalan maksimal dan tepat sasaran.
Modernisasi DI Jambo Aye diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi pengairan, terutama ke wilayah Senudun dan sekitarnya yang selama ini kerap mengalami keterlambatan aliran air. Dalam kesempatan tersebut, BWS Sumatera I juga menyampaikan bahwa tantangan pemulihan cukup berat karena kerusakan infrastruktur tidak hanya terjadi di Jambo Aye, tetapi juga di wilayah Sigli, Aceh Timur, dan Bireuen.
Namun demikian, Panton Labu ditargetkan mulai difungsikan pada bulan Maret ini, dengan progres pemulihan Jambo Aye yang dinilai masih lebih unggul. Apresiasi turut disampaikan kepada Setia Budi yang sejak hari-hari pertama bencana telah turun langsung ke lapangan.
Selain menangani aspek teknis, ia juga terlibat dalam proses evakuasi serta pengantaran bantuan sembako kepada masyarakat, termasuk di kawasan rumoh Rayeuk. Pembukaan pintu air irigasi tersebut turut dihadiri Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Timur, Mahmuddin dari Fraksi PKB.
Dalam kegiatan itu, Mahmuddin berkoordinasi langsung dengan Setia Budi selaku Ketua Unit Pengelola Irigasi (UPI) Jambo Aye/Langkahan untuk wilayah sayap kanan Aceh Timur. Mahmuddin menegaskan bahwa kehadiran DPRK tidak sebatas seremonial, melainkan bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan terhadap pemulihan infrastruktur pascabanjir.
Menurutnya, DPRK Aceh Timur akan terus mengawal proses perbaikan irigasi agar dilakukan secara bertahap, terukur, dan mengutamakan keselamatan masyarakat. “Kami di DPRK akan memastikan seluruh proses perbaikan ini berjalan sesuai rencana dan tidak menimbulkan risiko baru bagi warga.
Fungsi pengawasan akan terus kami jalankan melalui koordinasi dengan UPI dan instansi teknis, hingga irigasi di wilayah Aceh Timur benar-benar layak difungsikan kembali,” tegas Mahmuddin. Dengan kembali difungsikannya pintu air irigasi Jambo Aye, masyarakat petani di Aceh Utara dan Aceh Timur berharap aliran air dapat segera normal sehingga aktivitas pertanian dapat kembali berjalan dan produktivitas sawah masyarakat dapat pulih secara bertahap.( Mul)
